Hubungan Tingkat Pengetahuan Perawat Terhadap Identifikasi Patient Safety di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Permata Hati Lampung Timur
Abstract
PENDAHULUAN
Keselamatan pasien merupakan prinsip dasar perawatan kesehatan di lembaga kesehatan yang terus membutuhkan peningkatan kualitas. Faktor penting dalam memastikan keselamatan pasien adalah kualitas keperawatan (Wijaya et al., 2016). Keselamatan Pasien adalah suatu sistem yang membuat asuhan pasien lebih aman, meliputi asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya, serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (PMK No 11, 2017).
Keselamatan pasien di rumah sakit (KPRS) adalah system pelayanan dalam suatu Rumah sakit yang memberikan asuhan pasien menjadi lebih aman, term8asuk didalamnya mengukur resiko, identifikasi dan pengelolahan resiko terhadap pasien analisa insiden, kemampuan untuk belajar dan menindaklanjuti insiden serta menerapkan solusi untuk mengurangi resiko (WHO,2004). Oleh karena itu diperlukan komitmen dan ethis dalam keperawatan. Keselamatan pasien merupakan suatu system yang sangat dibutuhkan dan dengan adanya system ini diharapkan dapat meminimalisir kesalahan dalam penanganan pasien baik pada pasien UGD, rawat inap maupun pasien poliklinik (PERSI, 2008).
Keselamatan (safety) telah menjadi isu global termasuk juga untuk rumah sakit. Ada enam sasaran keselamatan pasien di rumah sakit yaitu ketepatan identifikasi, peningkatan komunikasi efektif, peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai, kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien operasi, pengurangan resiko infeksi terkait pelayanann kesehatan pengurangan resiko pasien jatuh (Depkes, 2011). Keenam aspek tersebut sangat penting untuk dilaksanakan di setiap rumah sakit. Namun harus diakui kegiatan institusi rumah sakit dapat berjalan apabila ada pasien. Keselamatan pasien merupakan prioritas utama untuk dilaksanakan dan hal tersebut terkait dengan isu mutu dan citra perumah sakitan (Depkes, 2011).
Pengetahuan perawat tentang patient safety merupakan hal yang penting, karena jika pengetahuan perawat tentang patient safety kurang maka jelas ini akan berpengaruh terhadap kinerja perawat itu sendiri dalam penerapan patient safety di rumah sakit. Aplikasi pengetahuan dibidang kesehatan yakni hubungan antara fakta dan interpretasi informasi mengenai penyebab dan usaha preventif penyakit serta keterampilan dalam perbaikan kesehatan. Pengalaman yang telah dan sedang dialami seseorang akan membentuk dan mempengaruhi penghayatan seseorang terhadap stimulus, yang kemudian akan membentuk sikap positif atau negatif. Belajar dibutuhkan seseorang untuk mencapai tingkat kematangan diri. Proses belajar dapat dilakukan oleh karyawan yang dalam hal ini perawat, pada saat menjalankan tugasnya.
Pengetahuan berperan penting pada persepsi patient safety. Persepsi merupakan proses yang digunakan individu mengelola dan menafsirkan kesan indera mereka dalam rangka memberikan makna kepada lingkungan mereka. Persepsi dapat dijelaskan sebagai interpretasi atau pemberian makna atas informasi atau pengetahuan yang diterima dari luar oleh berbagai indera.
Negara Amerika Serikat kesalahan medis terjadi tepat di seluruh spektrum, dan dapat dikaitkan dengan sistem dan faktor manusia. Insiden keamanan buruk yang paling umum terkait dengan prosedur bedah (27%), kesalahan pengobatan (18,3%) dan infeksi terkait perawatan kesehatan (12,2%) (Who, 2017). Laporan insiden keselamatan pasien di Indonesia oleh Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) berdasarkan provinsi pada tahun 2007, menemukan sejumlah kasus jenis KNC sebesar 47,6% dan KTD sebesar 46,2%, sedangkan pada tahun 2010 kasus KTD meningkat menjadi 63%, yang terdiri dari 12 provinsi di Indonesia. Insidensi pelanggaran patient safety 28,3% dilakukan oleh perawat. Contohnya koordinasi dan komunikasi yang kurang baik antar perawat, penggunaan alat suntik yang tidak aman, salah pemberian obat (Muthmainah, 2014). Data insiden keselamatan pasien tahun 2012 melaporkan analisis penyebab terjadinya insiden 46 % berkaitan dengan salah identifikasi, 36 % dikarenakan karena komunikasi yang tidak efektif sehingga terjadi medication error, 18 % dikarenakan prosedur tidak dijalankan (Fatimah et al., 2018)
Laporan insiden keselamatan pasien berdasarkan Provinsi tahun 2007 di temukan Provinsi DKI Jakarta menempati urutan tertinggi yaitu 37,9% diantara Provinsi lainnya (Jawa Tengah 15,9%, DI Yogyakarta 13,8%, Jawa Timur 11,7%, Aceh 10,7%, Sumatra Selatan 6,9%, Jawa Barat 2,8%, Bali 1,4%, dan Sulawesi Selatan 0,7%) dan paling banyak ditemukan pada unit penyakit dalam, bedah dan anak yaitu sebesar 56,7% dibandingkan unit kerja lain,
Hasil studi pendahuluan dan hasil observasi yang dilakukan di Rumah Sakit permata hati pada bulan Januari-Desember 2019 terdapat 6 laporan kasus insiden. Kasus yang terjadi adalah 2 laporan pasien jatuh, 2 laporan infeksi nosokomial dan 12 diantaranya menyangkut identifikasi pasien yaitu 7 laporan pasien tidak terpasang gelang, 3 laporan kesalahan pemasangan gelang pada pasien yang memiliki nama yang sama serta 2 kesalahan perawat dalam pemberian obat. Data yang diperoleh pada januari sampai September tahun 2020 terdapat 10 laporan kasus insiden. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada 5 orang perawat pelaksana pada shift pagi di ruang rawat inap terkait pengetahuan dalam identifikasi pasien bahwa 3 orang perawat pelaksana tidak melakukan verifikasi identitas pasien dan tidak melihat identitas pasien yang ada pada gelang identitas pada saat melakukan tindakan dengan alasan karena sebagian besar dari pekerjaan mereka yang belum selesai dan harus diselesaikan seperti visit dokter, laporan asuhan keprarwatan sampai tindakan keperawatan.
Identifikasi pasien penting untuk mengidentifikasi pasien yang akan mendapatkan pelayanan atau pengobatan agar tidak terjadi kekeliruan. Kesalahan yang disebabkan oleh kesalahan identifikasi pasien dapat dicegah ketika penyedia layanan kesehatan secara konsisten menggunakan dua pengenal pasien yang unik seperti nama pasien dan nomor identifikasi (kamar pasien, atau nomor tempat tidur tidak digunakan) untuk memverifikasi identitas pasien (Kim, Yoo and Seo, 2018). Pelaksanaan Identifikasi pasien yang harus dilakukan perawat harusnya menjadi budaya sehingga insiden tidak terjadi dalam proses pelayanan kesehatan (Fatimah, Sulistiarini and Ata, 2018). Dalam lingkup patient safety pengetahuan perawat merupakan hal yang berhubungan dengan komitmen yang sangat diperlukan dalam upaya membangun budaya keselamatan pasien (Wijaya et al., 2016).
Ketepatan identifikasi pasien menjadi hal yang penting, bahkan berhubungan dengan keselamatan pasien. Identifikasi pasien adalah hal yang sangat mendasar yang harus dilakukan oleh seorang perawat, Identifikasi pasien dengan benar dapat menghindari terjadinya kesalahan medis atau kejadian yang tidak diharapkan yang dapat mengenai diri pasien. Pentingnya identifikasi pasien sangat ditunjang dengan pengetahuan seorang perawat. Apabila perawat menerapkan/melakukan identifikasi pasien didasari oleh pengetahuan yang memadai, maka perilaku identifikasi terhdap patient safety oleh perawat tersebut akan bersifat langgeng (long lasting) (Darliana, 2016). Identifikasi yang tidak benar mengakibatkan pasien menjalani prosedur yang tidak seharusnya. Pelaksanaan identifikasi pasien yang harus dilakukan
perawat harusnya menjadi budaya atau kebiasaan sehingga insiden tidak terjadi dalam proses pelayanan kesehatan. Seorang perawat dalam memberikan asuhan keperawatan harus memiliki pengetahuan yang benar, keterampilan, dan sikap untuk menangani kompleksitas perawatan kesehatan. Tanpa pengetahuan yang memadai, tenaga kesehatan termasuk perawat tidak bisa menerapkan dan mempertahankan budaya keselamatan pasien (Myers, 2012).
Perawat sebagai salah satu komponen SDM dalam sistem pelayanan kesehatan rumah sakit sebagai ujung tombak yang bertugas langsung digaris depan yang paling banyak berhadapan dengan pasien. Oleh karena itu perawat harus menyadari perannya sehingga harus dapat berpartisipasi aktif dalam mewujudkan patient safety. Kerja keras perawat tidak dapat mencapai level optimal jika tidak didukung dengan sarana prasarana, manajemen rumah sakit dan tenaga kesehatan lainnya (Adib, 2009).
Penerapan patient safety di rumah sakit, ada beberapa aspek yang harus dibangun. Menurut Kuncoro, (2012) “aspek yang harus dibangun dalam menerapkan patient safety di rumah sakit adalah pengetahuan, sikap, kinerja perawat terhadap patient safety”. Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang (Meliono, 2007). Aplikasi pengetahuan dibidang kesehatan yakni hubungan antara fakta dan interpretasi informai mengenai penyebab dan pencegahan penyakit serta keterampilan dalam perbaikan kesehatan. Pengetahuan perawat tentang patient safety sangatlah penting, karena jika pengetahuan perawat tentang patient safety kurang maka jelas ini akan berpengaruh terhadap kinerja perawat itu sendiri dalam menerapkan patient safety di rumah sakit.
Dapat dijelaskan bahwa semakin tinggi pengetahuan perawat tentang penerapan keselamatan pasien (patient safety), diharapkan semakin tinggi pula perawat dalam memahami pentingnya penerapan keselamatan pasien (patient safety) yang diberikan kepada pasien dalam pelayanan keperawatan (Darliana, 2016). Begitupun sebaliknya apabila pengetahuan pemberi asuhan keperawatan kurang dalam menerapkan dan mempertahankan budaya keselamatan pasien akan berdampak pada kesalahan identifikasi pasien yang nantinya bisa berakibat fatal jika pasien menerima prosedur medis yang tidak sesuai dengan kondisi pasien seperti salah pemberian obat, salah pengambilan darah bahkan salah tindakan medis.
Solusi tercapainya patient safety di lingkungan rumah sakit, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan sosialisasi dengan berbagai metode dan media diantaranya melakukan seminar, workshop untuk perawat dan petugas kesehatan lainnya melalui poster dan leaflet, monitoring dan evaluasi penerapan SPO secara berkala oleh komite keperawatan juga perlu dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan pelaksanaan identifikasi pasien sehingga dapat menurunkan angka insiden keselamatan pasien, selain itu dalam pelaksanaannya diperlukan supervisi sebagai alat evaluasi dan perbaikan (Fatimah et al., 2018). Demikian permasalahan ini peneliti menganggap perlu untuk dilakukan penelitian tentang Hubungan Tingkat Pengetahuan Perawat Tentang Identifikasi dalam Patient Safety dengan Pelaksanaannya di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Permata Hati Lampung Timur perlu dilaksanakan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dalam penelitian yang akan dilakukan peneliti menggunakan rancangan analitik dengan metode penelitian cross-sectional. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Permata Hati Lampung- Timur pada tanggal 10 sampai 15 Februari 2021. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat yang ada di RS Permata Hati yang berjumlah 35 responden.Objek dalam penelitian adalah pola makan dan kejadian dispepsia. Penelitian telah dilakukan pada bulan Januari 2021. Analisis menggunakan uji statistik Chi Square.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
| Variabel | N | Prosentase | |
| Tingkat Pengetahuan | Baik | 25 | 71.4 |
| Cukup | 10 | 28.6 | |
| Total | 35 | 100 | |
Dari tabel 1 didapatkan hasil analisis bahwa sebagian besar tingkat pengetahuan perawat baik sejumlah 25 responden (71.4%) (70.4%) dan cukup sejumlah 10 responden (28.6%).
| Variabel | N | Prosentase | |
| Identifikasi pasien | Baik | 25 | 71.4 |
| Cukup | 10 | 28.6 | |
| Total | 35 | 100 | |
Dari tabel 2 didapatkan hasil analisis bahwa sebagian besar identifikasi pasien safety perawat baik sejumlah 25
| Pengetahuan perawat | Identifikasi patient safety | Jumlah | Nilai p | OR | ||||
| Baik | Cukup | |||||||
| N | % | N | % | N | % | |||
| Baik | 25 | 100 | 0 | 0 | 25 | 100 | 0.001 | 41.879 |
| Cukup | 0 | 0 | 10 | 100 | 10 | 100 | ||
| Jumlah | 25 | 100 | 10 | 100 | 35 | 100 | ||
Dari tabel 3 diketahui nilai p value 0.000 yang memiliki arti bahwa terdapat hubungan pengetahuan perawat dengan pelaksanaan identifikasi patient safety di RS Permata Hati Lampung Timur 2021 (p<0.05).
PEMBAHASAN
Pengetahuan perawat tentang patient Safety
Berdasarkan penelitian ini diperoleh hasil analisis bahwa sebagian besar tingkat pengetahuan perawat baik sejumlah 25 responden (71.4%) (70.4%) dan cukup sejumlah 10 responden (28.6%). Penelitian ini sejalan dengan Rofina (2019) dengan hasil penelitian didapatkan tingkat pengetahuan cukup baik sebanyak 50 orang (78,1%). Jika dilihat dari usia perawat hampir setengahnya berumur 25-35 tahun sebanyak 37 orang (74,0%) dengan pengetahuan yang cukup baik. Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan semakin cukup usia seseorang maka tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir. Bertambahnya usia seseorang dapat berpengaruh pada bertambahnya pengetahuan yang diperoleh, tetapi pada usia-usia tertentu atau menjelang usia lanjut kemampuan penerimaan atau pengingatan suatu pengetahuan akan berkurang (Notoadmodjo, 2012). Pada penelitian (Wawan dan Dewi,2011) bahwa seiring bertambahnya usia seseorang maka bertambah pula pengalaman seseorang yang melibatkan panca indra yang dapat mempengaruhi pengetahuan.
Tingkat pengetahuan jika dilihat dari pendidikan sebagian besar memiliki latar belakang pendidikan D3 Keperawatan sebanyak 51 orang (79,7%) dengan pengetahuan cukup baik 48 orang (96,0%). Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Handoko (2009) menyatakan bahwa pendidikan merupakan faktor penting dalam menentukan kemampuan kerja seseorang. Oleh karena itu pendidikan adalah langkah awal untuk melihat kemampuan seseorang.
Notoatmodjo (2012) menyatakan bahwa hal lain yang dapat mempengaruhi pengetahuan adalah tingkat pendidikan. Semakin tinggi pengetahuan seseorang maka akan semakin baik pula pengetahuan yang dimiliki orang tersebut. Namun perlu ditekankan bahwa seseorang yang berpendidikan rendah tidak berarti mutlak berpengetahuan rendah pula karena kemampuan belajar yang dimiliki juga dapat mempengaruhi pengetahuan, dengan kemampuan belajar yang baik seseorang akan cenderung mendapatkan informasi yang lebih banyak, baik dari orang lain maupun dari media massa. Semakin banyak informasi yang diperoleh mak semakin banyak pula pengetahuan yang didapat.
Peneliti berasumsi bahwa sebagian besar perawat di Permata Hati tergolong usia yang masih produktif mudah dalam menerima rangsangan intelektual sehingga mempunyai pengetahuan yang cukup baik. Seiring bertambahnya usia seseorang maka bertambah pula pengalaman seseorang yang melibatkan panca indra yang dapat mempengaruhi pengetahuan. Peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh oleh pendidikan formal, akan tetapi juga dapat diperoleh pada pendidikan non formal seperti didapat dari seminar atau pelatihan serta mencari informasi dari media massa seperti internet, buku, televisi.
Pelaksanaan Patient safety
Berdasarkan penelitian didapatkan hasil analisis bahwa sebagian besar identifikasi pasien safety perawat baik sejumlah 25 responden (71.4%) (70.4%) dan cukup sejumlah 10 responden (28.6%). Hal ini sesuai dengan penelitian Darliana, D (2016) yang menyatakan bahwa perilaku yang terbentuk pada individu dipengaruhi oleh persepsi individu berupa pengetahuan dan keyakinan terhadap suatu objek. Pengetahuan seseorang erat hubungannya dengan tindakan seseorang dalam memenuhi kewajibannya, sehingga pendidikan lanjut sangat penting dalam usaha meningkatkan perawat dalam memperoleh pengetahuan. Peneliti berasumsi bahwa pengetahuan cukup baik tetapi dalam pelaksanaannya baik, hal ini bisa disebabkan karena pengalaman, informasi yang berkesinambungan seperti sosialisasi saat apel pagi bersama serta kemampuan perawat tersebut dalam beradaptasi dengan pengalaman dan informasi baru. Hal ini disebabkan karena perawat memprioritaskan keselamatan pasien dengan selalu berusaha belajar walaupun pengetahuannya kurang sehingga pasien dirumah sakit aman. Pelaksanan tindakan berkaitan dengan perilaku bahwa perilaku yang didasari dengan pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari dengan pengetahuan.
Potter & Perry (2013) juga berpendapat, perawat memberikan kontribusi besar terhadap keberhasilan pelayanan kesehatan paripurna kepada klien. Hal ini menjadi sumber daya perawat yang andal dan professional dengan penjaminan kompetensi perawat. Untuk menjamin kompetensi perawat dalam pelayanan yang aman dan berkualitas, maka salah satunya perlu dilakukan kredensial perawat di rumah sakit PPNI Indonesia (2013). Peneliti berasumsi bahwa upaya kredensial keperawatan di rumah sakit sedang berjalan dan perlu ditingkatkan sebagai salah satu unsur dalam penilaian akreditasi rumah sakit. Untuk itu perlu adanya dukungan dari manajemen rumah sakit dan pemerintah dalam bentuk komitmen yang kuat serta monitor dan evaluasi dalam pelaksanaanya. Pelayanan keperawatan yang aman (manajemen patient safety) memegang peranan sangat penting dalam peningkatan mutu pelayanan.
Peneliti berasumsi bahwa pengetahuan cukup baik tetapi dalam pelaksanaannya baik, hal ini bisa disebabkan karena pengalaman, informasi yang berkesinambungan seperti sosialisasi saat apel pagi bersama serta kemampuan perawat tersebut dalam beradaptasi dengan pengalaman dan informasi baru. Hal ini disebabkan karena perawat memprioritaskan keselamatan pasien dengan selalu berusaha belajar walaupun pengetahuannya kurang sehingga pasien dirumah sakit aman. Pelaksanan tindakan berkaitan dengan perilaku bahwa perilaku yang didasari dengan pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari dengan pengetahuan.
Hubungan pengetahuan perawat dengan pelaksanaan patient safety
Hasil penelitia ini menunjukkan nilai p value 0.000 yang memiliki arti bahwa terdapat hubungan pengetahuan perawat dengan pelaksanaan identifikasi patient safety di RS Permata Hati Lampung Timur 2021 (p<0.05). Penelitian ini sejalan dengan Rofina (2019) Dari hasil uji statistik spearman rho dengan taraf signifikan p < 0,005 (dengan menggunakan SPSS 16.0) pada tingkat pengetahuan perawat didapatkan koofisien korelasi sebesar 0,001 dengan p < 0,005 yang artinya H0 ditolak dan H1 diterima. Ini menyatakan ada hubungan antara tingkat pengetahuan perawat tentang identifikasi dalam patient safety dengan pelaksanaannya.
Budiono, dkk (2014) menyatakan bahwa untuk meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan khususnya perawat, hal yang perlu dilakukan yaitu sosialisasi dan pelatihan. Semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang maka akan semakin baik pula pengetahuan yang dimiliki orang tersebut (Notoatmodjo, 2012). Menurut Siagian, Sondang. P (2008) pendidikan akan mempengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan sehingga semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin mengerti dan memahami tentang suatu ilmu serta akan berpengaruhi pada ilmunya. Pendidikan dan pelatihan dapat dipandang sebagai salah satu intervensi. Oleh karena itu organisasi atau instansi yang ingin berkembang harus memperhatikan pendidikan dan pelatihan bagi karyawannya (Notoatmodjo, 2012). Tujuan pelatihan antara lain untuk mencari dan mengidentifikasi kemampuan apa yang dibutuhkan karyawan dalam rangka menunjang kebutuhan institusi. Berdasarkan penelitian Budiono, dkk (2014) menyatakan bahwa untuk meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan khususnya perawat, hal yang perlu dilakukan yaitu sosialisasi dan pelatihan.
Peneliti berasumsi pelaksanaan yang baik dipengaruhi dengan pengetahuan atau pemahaman perawat terhadap SPO atau prosedur kerja tentang identifikasi dalam patient safety. Dan perawat yang ada di Rumah Sakit Permata Hati Lampung Timur 70% sudah menerapkan prosedur yang ditetapkan di Rumah Sakit tentang Patient safety.
KESIMPULAN DAN SARAN
Distribusi tingkat pengetahuan perawat tentang identifikasi patient safety paling tinggi kategori baik sejumlah 25 responden (71.4%). Distribusi pelaksanaan identifikasi patient safety oleh perawat tentang identifikasi patient safety paling tinggi kategori baik sejumlah 25 responden (71.4%). Terdapat hubungan pengetahuan perawat terhadap identifikasi patient safety di rumah sakit permata hati lampung timur 2021 (p value = < 0.001)
DECLARATIONS
Funding Statement
The authors did not receive support from any organization for the submitted work and No funding was received to assist with the preparation of this manuscript.
Conflict of Interest Statement
This research has no significant conflict. All the authors listed in this article have no involvement with outside parties. All authors approve the research results for publication, and all sources of writing have been included in the references.
Authors Contributions
The first author is responsible for making research proposals, identifying the questionnaires used, making research explanations and approval sheets, analyzing data, making final research reports, searching for journals for publication, and making publication manuscripts. The second and third authors are tasked with collecting data and coding in excel from the data collection results.
Availability of data and materials
Data and materials from the research will be accessible to readers after contacting the author.
Copyright and Licenses
Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under an Attribution-ShareAlike 4.0 International (CC BY-SA 4.0) that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
References
- Adib. M. (2009). Cara Mudah Memahami dan Menghindari Hipertensi Jantung danStroke. Yogyakarta: Dianloka
- Budiman & Riyanto A. 2013. Kapita Selekta Kuisioner Pengetahuan Dan Sikap Dalam Penelitian Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika pp 66-69.
- Darliana., & Devi. (2016). Hubungan Pengetahuan Perawat dengan Upaya Penerapan Pastient Safety di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Banda Aceh.
- Departemen Kesehatan RI. (2011). Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient Safety). Jakarta: Menteri Kesehatan Republik Indonesia.
- Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2017 Tentang Keselamatan Pasien. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2017
- Kim, K., Yoo, M. S. and Seo, E. J. (2018) ‘Exploring the In fl uence of Nursing Work Environment and Patient Safety Culture on Missed Nursing Care in Korea’, Asian Nursing Research. Elsevier, 12(2), pp. 121–126. doi: 10.1016/j.anr.2018.04.003
- Kongres PERSI. (2012). Laporan Peta Nasional Insiden Keselamatan Pasien. Jakarta
- (KPPRS), K. K. P. R. S. 2015.Pedoman Pelaporan IKP, Kementrian KesehatanRepublik Indonesia
- Komisi Akreditasi Rumah Sakit. 2017. Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) edisi 1, Jakarta: KARS.
- Komisi Akreditasi Rumah Sakit. 2012. Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) edisi 1, Jakarta: KARS.
- Kuncoro T, (2012). Hubungan antara Pengetahuan, Sikap dan Kualitas Kehidupan Kerja dengan Kinerja Perawat dalam Penerapan Sistem Keselamatan Pasien di Rumah Sakit”. Tesis. Fakultas Ilmu Keperawatan-UI: Depok.
- Meliono, I. 2007. Pengetahuan. In: MPKT Modul I . Jakarta: FEUI.
- Muthmainnah. 2014. Hubungan pengetahuan, motivasi, dan supervisi dengan kinerja perawat pelaksana dalam penerapan program keselamatan pasien di instalasi rawat inap RSUD haji Makassar. Jurnal Kesmas
- Myers, DG. 2012. Psikologi sosial. Jakarta: Salemba Humanika
- Nursalam. (2015). Manajemen Keperawatan: Aplikasi dalam Keperawatan Professional. Edisi 5. Jakarta: Salemba Medika
- Notoatmodjo S. 2012. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
- Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
- Siti Fatimah F, Maria Rosa E. Efektivitas Pelatihan Patient Safety; Komunikasi S-BAR pada Perawat dalam Menurunkan Kesalahan Pemberian Obat Injeksi di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II; 2014.
- Utami Pasaribu, A. T. (2017) ‘Gambaran Pelaksanaan Ketepatan Identifikasi Pasien Oleh Perawat Di Instalasi Rawat Inap Kelas III RSUD Pasar Minggu’, p. 15.
- Wijaya, H. et al. (2016). Tingkat pengetahuan perawat tentang Patient Safety di rumah sakit Adi Husada Surabaya., 2(1), pp. 68–74
- WHO. (2007). Communications during patient handovers. Dari http://www.ccforpatientsafety.org/common/pdfs/fpdf/presskit/PS-Solution3.pdf.
Rights and permissions
© The Author(s) 2021
Open Access This article is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License (CC BY-SA 4.0), which permits others to share, adapt, and redistribute the material in any medium or format, even for commercial purposes, provided appropriate credit is given to the original author(s) and the source, a link to the license is provided, and any changes made are indicated. If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original. To view a copy of this license, visit https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/.




