Pengaruh Massage Effleurage Terhadap Penurunan Nyeri Dismenore Primer pada Remaja Putri di IAI Agus Salim Metro Lampung
Abstract
PENDAHULUAN
Remaja merupakan golongan usia individu yang dapat dikatakan sebagai golongan usia transisi yaitu di antara golongan bukan golongan dewasa namun juga bukan golongan usia anak-anak (Sinaga., et al, 2017). Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) rentang usia remaja adalah 10-24 tahun dan belum menikah (Kementrian Kesehatan RI, 2015). Remaja memasuki usia pubertas mulai mengalami banyak perubahan fisik maupun psikologis, salah satu perubahan tersebut yaitu ketika memasuki masa menstruasi atau haid, memasuki periode menstruasi remaja sering kali mengalami masalah, masalah yang sering timbul dan yang paling banyak dialami remaja adalah gangguan nyeri menstruasi atau dismenore(Jama, 2020) Dismenore merupakan keluhan ginekologis akibat ketidakseimbangan hormon progesterone dalam darah sehingga mengakibatkan timbulnya rasa nyeri yang paling sering terjadi pada wanita (Andari., et al, 2018). Nyeri yang dirasakan seperti diremas-remas sebelum dan selama siklus menstruasi pada perut bagian bawah dan dapat menjalar ke pinggang sampai paha. Nyeri berlangsung selama 48-72 jam, dirasakan lebih nyeri pada hari pertama dan kedua menstruasi. (Harzif., et al, 2018). Dismenore primer yaitu nyeri menstruasi yang dirasakan tanpa adanya kelainan pada alat reproduksi. Dismenore primerbiasanya disertai adanya keluhan-keluhan lain seperti diare, mual dan muntah, rasa lemah, sakit kepala, pusing, bahkan dapat juga dijumpai demam hingga hilang kesadaran (Pramadika, 2019). Pada sebagian perempuan, nyeri menstruasi yang dirasakan dapat berupa nyeri yang samar, tetapi bagi sebagian yang lain dapat terasa kuat bahkan bisa membuat aktivitas terganggu. Perempuan yang merasakan sakit tak tertahankan saat menstruasi dapat berpengaruh terhadap 50% aktivitas harian pada perempuan usia produktif, dan 85% pada remaja putri usia belasan tahun (Laila, 2019). Dismenore terjadi pada kisaran 15,8% - 89,5% perempuan di dunia. Di Indonesia sendiri terjadi pada 60-70% perempuan dan diantara mereka masih terdapat yang kurang tau bagaimana cara mengatasi dismenore (Pramadika, 2019). Nyeri dapat diatasi dengan berbagai alternatif, baik secara farmakologis maupun non farmakologis. Secara farmakologis dapat diatasi dengan obat-obatan analgesik, sedangkan secara non farmakologis dapat diatasi dengan bimbingan antisipasi, kompres panas dan dingin, stimulasi saraf elektris transkutan (TENS), distraksi, relaksasi, imajinasi terbimbing, hipnosis, akupuntur, umpan balik biologis, dan masase effleurage (Pramadika, 2019) Massage Effleurage adalah suatu gerakan dengan menggunakan seluruh permukaan tangan yang digosok dengan ringan dan menenangkan. Teknik ini bertujuan untuk untuk meningkatkan sirkulasi darah, mengurangi rasa sakit, dan merenggangkan otot serta meningkatkan relaksasi fisik dan mental. Usapan massage effleurage menstimulasi serabut di kulit akan membuat nyaman pada saat kontraksi uterus sehingga memperlancar peredaran darah ke uterus dan memblok implus nyeri bisa berkurang. Massage Effleurage merupakan teknik masase yang aman, mudah untuk dilakukan, tidak memerlukan banyak alat, tidak memerlukan biaya, tidak memiliki efek samping dan dapat dilakukan sendiri atau dengan bantuan orang lain (Sari, 2019). Menurut penelitian Nita Komala Sari (2016) Pengaruh Pemberian Massage Efflurage Terhadap Tingkat Nyeri Haid (Dismenore) Pada Remaja Putri Kelas VIII Di SMPN 3 Depok Seleman Yogyakarta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh pemberian massage efflurage terhadap tingkat nyeri haid (dismenore) pada remaja putri kelas VIII SMPN 3 Depok Sleman Yogyakarta. Metode penelitian pre eksperimen dengan desain one group pretest posttest digunakan pada penelitian ini. Hasil penelitian menyimpulkan adanya pengaruh signifikan pemberian massage efflurage terhadap tingkat nyeri haid (dismenore) pada remaja putri kelas VIII SMPN 3 Depok Sleman Yogyakarta. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan oleh peneliti kepada 57 mahasisiwa jurusan pendidikan agama islam tahun ajaran 2020 di IAI Agus Salim Metro Lampung dengan cara menghubungi mahasiswi melalui aplikasi chating WhatsApp dengan hasil sebanyak 21 mahasisiwi mengatakan sering mengalami nyeri dismenore primer. Dari 21 mahasiwi yang mengalami nyeri dismenore primer terdapat 15 mahasisiwi mengatakan untuk mengatasi nyeri dismenore primer dengan cara mengkonsumsi obat herbal dalam kemasan atau obat farmakologis dan 6 mahasisiwi mengatakan tidak mengetahui cara mengatasi nyeri dismenore primer. Alasan peneliti mengambil kasus dismenore primer di IAI Agus Salim Metro Lampung adalah ketika salah satu kerabat peneliti yang merupakan salah satu mahasiswi IAI Agus Salim Metro Lampung mengalami nyeri dismenoreyang mengakibatkan hilang kesadaran sehingga sempat dibawa ke pelayanan kesehatan terdekat. Oleh karena itu peneliti memilih IAI Agus Salim sebagai tempat penelitian untuk melihat apakah mahasiswi IAI Agus Salim mengetahui cara untuk mengatasi nyeri dismenore primer atau tidak. Setelah dilakukan wawancara melalui aplikasi chating WhatsApp kepada mahasiswi IAI Agus Salim Metro Lampung didapatkan bahwa upaya yang mereka lakukan untuk menghilangkan nyeri dismenore biasa dengan cara membiarkan saja nyeri tersebut dan ada juga yang mengkonsumsi obat herbal maupun obat farmakologis. Berdasarkan informasi yang didapatkan bahwa mahasiwi tersebut belum pernah mendengar atau mengetahui tentang massase effleurage dapat menurunkan skala nyeri menstruasi, maka dari itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi massase effleurage terhadap penurunan dismenore primer pada remaja putri di IAI Agus Salim Metro Lampung.
METODE
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif.Penelitian ini dilakukan di IAI Agus Salim Metro Lampung yang dilaksanakan pada tanggal 18 Maret - 23 April 2021. Dalam penelitian ini menggunakan rancangan analisis dengan menggunakan pendekatan pra eksperimen dengan rancangan one group pretest – posttest. Penelitian ini menggunakan tehnik Nonprobability sampling. Populasi dalam penelitian ini adalahmahasiswa IAI Agus Salim Metro Lampung jurusan pendidikan agama islam yang berjumlah 57 mahasiswa. Sampel yang diperlukan dalam penelitian ini adalah mahasiswi jurusan pendidikan agama islam di IAI Agus Salim Metro Lampung yang mengalami dismenorea primer sejumlah 21 mahasiswi dengan menggunakan tehnik Nonprobability sampling. purposive sampling.
Pengumpulan data penelitian
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, yaitu data yang diperoleh atau diambil langsung oleh peneliti terhadap responden sebelum dan setelah diberikan intervensi massage effleurage. Pengukuran tingkat nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) yang di ukur sebelum dan setelah diberikan intervensi massage effleurage. Pelaksanaan massage efflurage yang akan diberikan kepada responden sesuai dengan SOP. Cara pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
- Peneliti mengajukan surat permohonan izin penelitian yang dikeluarkan Universitas Aisyah Pringsewu dan ditujukan kepada Ka Prodi IAI Agus Salim Metro Lampung.
- Dikarenakan penelitian dilakukan pada masa pandemic covid-19 maka peneliti mengubungi responden melalui aplikasi chatting WhatsApp.
- Peneliti menjelaskan tujuan penelitian, prosedur penelitian dan teknik penelitian kepada calon responden. Peneliti menanyakan apakah dalam 3 bulan terakhir calon responden merasakan nyeri dismenore primer dan menanyakan apakah calon responden bersedia untuk meberitahu peneliti saat calon responden sedang mengalami nyeri dismenore primer.
- Peneliti meminta persetujuan dari calon responden untuk berpartisipasi dalam penelitian. Setiap calon responden diberikan kebebasan untuk memberikan persetujuan atau menolak untuk menjadi subjek penelitian.
- Setelah calon responden menyetujui untuk ikut serta dalam penelitian, peneliti membuat janji pertemuan dengan responden untuk menandatangani lembar informed consent. Setelah itu peneliti menunggu sampai responden mengalami nyeri dismenore primer.
- Pada saat responden mengalami nyeri dismenore primer peneliti memberikan lembar pengukuran tingkat nyeri pretest sebelum pemberian intervensi Massage Effleurage kepada responden.
- Peneliti melakukan intervensi Massage Effleurage ke responden yang mengalami nyeri dismenore primerpada hari pertama selama 10-15 menit.
- Setelah pemberian intervensi Massage Efflurage selesai peneliti lalu memberikan lembar post test ke responden untuk mengukur skala nyeri kembali setelah pemberian intervensi.
- Peneliti memberikan reinforcement positif pada semua responden atas keterlibatannya dalam penelitian.
Analisis Data Penelitian
Analisa univariat digunakan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variable penelitian. Bentuk analisis univariate tergantung dari jenis datanya. Untuk data numeric digunakan nilai mean atau rata-rata, median dan standar deviasi (Notoadmojo, 2018). Analisis bivariat digunakan untuk mendiskripsikan distribusi data, menguji perbedaan dan mengukur hubungan antara dua variabel yang diteliti (Notoatmodjo, 2018). Yaitu untuk melihat perbedaan antara sebelum dan sesudah mendapatkan perlakuan Massage Effleurage terhdap dismenore primer di IAI Agus Salim Metro Lampung. Analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan uji t-dependen.
HASIL DAN DISKUSI
Analisis Univariat
| Pengukuran | Mean | Median | Sdt Dev | Min-Max | N |
| Sebelum | 3.81 | 4 | 0.814 | 3-6 | 21 |
| Sesudah | 1,76 | 2 | 0,768 | 0-3 | 21 |
Tabel 1 didapatkan bahwa rata-rata intensitas nyeri dismenore primer pada remaja putri sebelum diberi massage effleurage adalah 3,81, median 4, dengan standar deviasi 0,814, nyeri dismenore primerterendah 3 dan nyeri dismenore primer tertinggi 6 danrata-rata intensitas nyeri dismenore primer pada remaja putri sesudah diberi massage effleurage adalah 1,76, median 2, dengan standar deviasi 0,768, nyeri dismenore primerterendah 0 dan nyeri dismenore primer tertinggi 3.
Prostaglandin adalah bahan kimia yang dibuat oleh lapisan rahim, sebelum menstruasi kadar prostaglandin meningkat. Wanita yang mengalami dismenoreatau nyeri menstruasi memiliki kadar prostaglandin 5-13 kali lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak mengalami dismenoreprimer. Prostaglandin menyebabkan peningkatan aktivitas uterus dan serabut-serabut saraf terminal rangsang nyeri. Kombinasi antara peningkatan kadar prostaglandin dan peningkatan kepekaan miometrium menimbulkan tekanan intrauterus sampai 400 mm Hg dan menyebabkan kontraksi miometrium yang hebat. Atas dasar itu disimpulkan bahwa prostaglandin yang dihasilkan uterus berperan dalam menimbulkan hiperaktivitas miometrium. Kontraksi miometrium yang disebabkan oleh prostaglandin akan mengurangi aliran darah, sehingga terjadi iskemia sel-sel miometrium yang mengakibatkan timbulnya nyeri spasmodic (Andari, 2018).
Hal ini didukung oleh hasil penelitian terdahulu yang melakukan penelitian dengan mengukur kadar Prostaglandin pada darah menstruasi yang terdapat dalam tampon, yaitu bahwa kadar Prostaglandin dua kali lebih tinggi pada wanita yang mengalami nyeri haid dibandingkan dengan yang tidak mengalami nyeri haid. Penelitian pada sediaan endometrium wanita dengan nyeri haid yang tidak menjalani pengobatan, diperoleh kadar Prostaglandin empat kali lebih tinggi dibandingkan dengan wanita tanpa nyeri haid saat hari pertama menstruasi (Andari, 2018).
Menurut peneliti bahwa nyeri haid pada responden disebabkan oleh tingginya kadar prostaglandin dalam darah. Hal ini dikarenakan selama haid, uterus berkontraksi lebih kuat, kadang-kadang ketika kontraksi seorang itu akan merasakan nyeri, kontraksi otot-otot rahim berlaku ketika prostaglandin dihasilkan.
Massase effleurage memberikan kehangatan pada kulit, mengurangi nyeri dan mendorong relaksasi sehingga mendatangkan kenyamanan. Sesuai dengan penelitian Nita (2016) tentang pengaruh pemberian masasse effleurage terhadap tingkat nyeri haid (dismenore) pada remaja putri Kelas VIII Di SMPN 3 Depok Sleman Yogyakarta. Serta didapatkan hasil bahwa teknik effleurage dapat menurunkan intensitas nyeri dismenorea.
Hal ini juga didukung oleh penelitian Amin (2020) tentang pengaruh massage effleurage terhadap pengurangan intensitas nyeri dismenore primer pada remaja putri. Serta didapatkan hasil bahwa teknik effleurage dapat menurunkan intensitas nyeri dismenore primer sebelum dilakukan massage effleurage pada responden mengalami nyeri, namun setelah diberikan massage effleurage pada responden mengalami penurunan intensitas nyeri.
Menurut peneliti hal ini menunjukkan bahwa pemberian terapi massage sebagai terapi non farmakologis dapat menurunkan intensitas nyeri dismenorea. Massage effleurage dapat menstimulus mekanoreseptor yang dibawa neuron A-Beta pada area abdomen yang dekat dengan area uterus.
Analisis Bivariat
| Intensitas Nyeri Dismenore | Mean | Std Dev | P value | N |
|---|---|---|---|---|
| Sebelum | 3,81 | 0,814 | 0,000 | 21 |
| Sebelum Sesudah | 1,76 | 0,768 | 0,000 | 21 |
Dari tabel 2 diatas terlihat bahwa rata-rata intensitas nyeri dismenore primer pada remaja putri sebelum diberi massage effleurage adalah 3,81, sedangkan rata-rata intensitas nyeri dismenore pada remaja putri sesudah diberi massage effleurage adalah 1,76. Hasil uji statistik didapatkan nilai 0,000 (P value = 0,000, dimana P value <α (0,05) maka dapat disimpulkan ada pengaruh massage effleurage terhadap penurunan skala nyeri dismenore primerpada remaja IAI Agus Salim Metro Lampung.
Dismenore merupakan keluhan ginekologis akibat ketidakseimbangan hormon progesterone dalam darah sehingga mengakibatkan timbulnya rasa nyeri yang paling sering terjadi pada wanita. Remaja putri yang mengalami gangguan nyeri menstruasi sangat menggangu dalam proses belajar mengajar. Hal ini menyebabkan remaja putri sulit berkonsentrasi karena ketidaknyamanan yang dirasakan ketika nyeri haid, oleh karena itu pada usia remaja dismenore harus ditangani agar tidak terjadi dampak yang lebih buruk (Andari, 2018).
Nyeri dapat diatasi dengan berbagai alternatif, baik secara farmakologis maupun non farmakologis. Secara farmakologis dapat diatasi dengan obat-obatan analgesik, sedangkan secara non farmakologis dapat diatasi dengan bimbingan antisipasi, kompres panas dan dingin, stimulasi saraf elektris transkutan (TENS), distraksi, relaksasi, imajinasi terbimbing, hipnosis, akupuntur, umpan balik biologis, dan massage effleurage. Massage effleurage merupakan salah satu metode non farmakologis yang dianggap efektif dalam menurunkan nyeri (Andari, 2018).
Keunggulan massage effleurge dibandingkan dengan terapi yang lainnya adalah massage effleurge dapat sangat mudah dilakukan yakni dengan cara pemijatan berupa usapan lembut, lambat dan panjang atau tidak putus-putus, di selain itu tidak perlu menggunakan peralatan khusus untuk melakukannya. Jika dibandingkan dengan terapi farmakologis, massage effleurage tidak memiliki efek samping. Effleurage merupakan teknik massase yang aman, mudah, tidak perlu banyak alat, tidak perlu biaya, tidak memiliki efek samping dan dapat dilakukan sendiri atau dengan bantuan orang lain (Yoenaningsih, 2013).
Massage effleurage merupakan salah satu metode non farmakologis yang dianggap efektif dalam menurunkan nyeri. Effleurage adalah teknik memijat dengan tenang berirama, bertekanan lembut kearah distal atau bawah. Effleurage bertujuan untuk meningkatkan sirkulasi darah, memberi tekanan, dan menghangatkan otot dan meningkatkan relaksasi fisik dan mental. Effleurage merupakan teknik massage yang aman, mudah, tidak perlu banyak alat, tidak perlu biaya, tidak memiliki efek samping dan dapat dilakukan sendiri atau dengan bantuan orang lain. (Yoenaningsih, 2013).
Hasil penelitian Nita (2016) menunjukkan bahwa ada perbedaan skala nyeri sebelum dan sesudah diberikan terapi massage effleurage dengan P value = 0,000. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh terapi massage effleurage terhadap penurunan skala nyeri dismenore primer pada remaja putri di SMP Muhammadiyah Terpadu Kota Bengkulu.
Menurut peneliti adanya pengaruh pemberian terapi masage effleurage terhadap penurunan skala nyeri dismenore primer dikarenakan terapi masage effleurage yang diberikan membuat relaksasi otot sehingga sangat efektif untuk menurunkan rasa nyeri dismenore primer. Hal ini sejalan dengan teori Gate Control menurut Monsdragon dalam Andari (2018) bahwa serabut nyeri membawa stimulasi nyeri ke otak lebih kecil dan perjalanan sensasinya lebih lambat dari pada serabut sentuhan yang luas. Ketika sentuhan dan nyeri dirangsang bersamaan, sensasi sentuhan berjalan ke otak dan menutup pintu gerbang dalam otak, sehingga pembatasan jumlah nyeri dirasakan dalam otak.
Terapi masage effleurage bermanfaat untuk dapat melancarkan sirkulasi darah di dalam seluruh tubuh, menjaga kesehatan agar tetap prima, membantu mengurangirasa sakit dan kelelahan, merangsang produksi hormon endorfin yang berfungsi untuk relaksasi tubuh, mengurangi beban yang ditimbulkan akibat stress, menyingkirkan toksin, menyehatkan dan menyeimbangkan kerja organ-organ tubuh. Dengan masage effleurage ini stress, nyeri, dan ketegangan dapat diminimalisir. Kekuatan dan kelenturan pikiran, tubuh, dan emosibisa ditingkatkan. Tidur bisa lebih berkualitas, restrukturisasi tulang, otot, dan organ dapat dibantu (Sari, 2019).
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
- Rata-rata intensitas nyeri dismenoreprimer pada remaja putri sebelum diberi massage effleurage adalah 3,81.
- Rata-rata intensitas nyeri dismenore primer pada remaja putri sesudah diberi massage effleurage adalah 1,76.
- Hasil uji statistik didapatkan nilai 0,000 (P value = 0,000) maka dapat disimpulkan ada pengaruh massage effleurage terhadap penurunan skala nyeri dismenore primer pada remaja putri IAI Agus Salim Metro Lampung.
Funding Statement
The authors did not receive support from any organization for the submitted work and No funding was received to assist with the preparation of this manuscript
Conflict of Interest statement
Penulis yang namanya tercantum tepat di bawah ini menyatakan bahwa tidak memiliki afiliasi atau keterlibatan dengan pihak luar manapun dan tulisan ini murni dari sumber yang dicantumkan di daftar pustaka serta tidak mengandung plagarisme dari jurnal artikel manapun. Sumber tulisan telah dicantumkan seluruhnya didaftar pustaka.
Copyright and Licensing
Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under an Attribution-ShareAlike 4.0 International (CC BY-SA 4.0) that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
References
- Amin, M., & Purnamasari, Y. (2020). Penurunan Skala Nyeri Dismenore Primer pada Remaja Putri Menggunakan Masase Effleurage. Journal of Telenursing (JOTING), 2(2), 142-149. doi:http/doi.org/10.31539/joting.v2i2.1440
- Andari, Fatsiwi Nunik., M. Amin., & Yesi Purnamasari. (2018). Pengaruh Masase Effleurage Abdomen Terhadap Penurunan Skala Nyeri Dismenore Primer Pada Remaja Putri Di SMP Muhammadiyah Terpadu Kota Bengkulu. Jurnal Keperawatan Sriwijaya. 5(2), 8-15
- Harzif, Achmad Kemal., Melisa Silvia., &Budi Wiweko. (2018). Fakta – Fakta Mengena Menstruasi Pada Remaja. Jakarta: Universitas Indonesia
- Laila, Nur Najmi. (2019). Buku PintarMenstruasi. Yogyakarta: Buku Biru
- Nita Komala Sari. (2016). Pengaruh Pemberian Massage Effleurage Terhadap Tingkat Nyeri Haid (Dismenore) Pada Remaja Putri KelasVIII Di SMPN3Depok Sleman Yogyakarta. Doctoral dissertation,Universitas' Aisyiyah Yogyakarta,10(2),1-7
- Pramadika, Dhito Dwi & Fitriana. (2019).Panduan Penanganan Dismenore.Yogyakarta: Dee publish
- Sari, D. P., & Hamranani, S. S. T. (2019).Pengaruh Terapi Massage Effleurage terhadap Penurunan Nyeri Haid Pada Remaja Putri di Klaten. MOTORIK Jurnal Ilmu Kesehatan, 14(2), 123- 126.
- Yoenaningsih , Putu Wija Widoarin. (2013).Perbedaan Tingkat Nyeri MenstruasiDengan Pemberian Teknik Effleurage Pada Siswi SMP Negri 1 Jember.Program Studi Ilmu Keperawatan UNIVERSITAS Jember
Rights and permissions
© The Author(s) 2022
Open Access This article is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License (CC BY-SA 4.0), which permits others to share, adapt, and redistribute the material in any medium or format, even for commercial purposes, provided appropriate credit is given to the original author(s) and the source, a link to the license is provided, and any changes made are indicated. If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original. To view a copy of this license, visit https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/.




